Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Gema Ego Para Bedebah

               Perjalanan yang kukira akan lebih baik, akan lebih memanusiakan. Ternyata prediksi manusia lemah ini salah. Manusia memang jahat ya, selalu memikirkan apapun menggunakan sudut pandangnya. Dasar kepercayaan terbangun pada pertemuan pertama, kedua, dan ketiga. Kepercayaan berkomunikasi, kepercayaan dalam mengemban amanah, yang kemudian sirna bukan karena kinerja satu dan lainnya, tapi karna mulut manusia lain yang menghasut singa menerkamnya habis tak tersisa. “Aku yang terlalu lemah atau dunia yang memang brengsek sedari dulu?” “Kata siapa?” “Kataku tadi, kau tuli?” “Tidak, kau ini.” Decak kesal, Ria. Tatapan kami lurus ke depan, kosong. Sekosong otak kami. Langkah kaki terdengar tak beraturan, gertakannya keras. Semilir angin sore yang seharusnya menyejukkan, justru terasa seperti sabetan silet di permukaan kulit—dingin dan menyakitkan. "Mereka tidak melihat data, Ria. Mereka melihat 'siapa yang bicara'," desisku, m...

Postingan Terbaru

Berlayar Tanpa Peta 2

Hipokrisi

Perjalanan Pertamaku

Cerpen: Lagi-Lagi Nasi Goreng

Resensi dan Ulasan Novel The Alpha Girls

Resensi Buku I Jiwa-Jiwa Yang Mencipta (Rudolf Puspa, Sitras Anjilin, Ni Luh Menek)

Say goodbye Agust

Pesan 365 hari di tahun genap

Satu pesan Ayah

Sajak ke-8