Gema Ego Para Bedebah
Perjalanan yang kukira akan lebih baik, akan lebih memanusiakan. Ternyata prediksi manusia lemah ini salah. Manusia memang jahat ya, selalu memikirkan apapun menggunakan sudut pandangnya. Dasar kepercayaan terbangun pada pertemuan pertama, kedua, dan ketiga. Kepercayaan berkomunikasi, kepercayaan dalam mengemban amanah, yang kemudian sirna bukan karena kinerja satu dan lainnya, tapi karna mulut manusia lain yang menghasut singa menerkamnya habis tak tersisa. “Aku yang terlalu lemah atau dunia yang memang brengsek sedari dulu?” “Kata siapa?” “Kataku tadi, kau tuli?” “Tidak, kau ini.” Decak kesal, Ria. Tatapan kami lurus ke depan, kosong. Sekosong otak kami. Langkah kaki terdengar tak beraturan, gertakannya keras. Semilir angin sore yang seharusnya menyejukkan, justru terasa seperti sabetan silet di permukaan kulit—dingin dan menyakitkan. "Mereka tidak melihat data, Ria. Mereka melihat 'siapa yang bicara'," desisku, m...
.png)

.jpeg)