Cerpen: Lagi-Lagi Nasi Goreng
Lantunan azan mengisi sunyinya pagi, seakan membangunkan semesta dan juga membangunkan semangat dalam diriku. Aku segera bergegas ke kamar mandi agar tidak ditinggal oleh ayahku ke masjid. Meski jarak rumahku dengan masjid hanya sekitar 10 langkah, namun bagiku 10 langkah itu tetap menyeramkan terlebih sekitaran rumahku lebih banyak ditumbuhi pohon pisang. Setelah selesai mandi, aku mengenakan koko hitam dan sarung kotak-kotak ku.
“Ayah, tunggu aku sebentar” ucapku
sambil tergesa gesa memakai baju.
“Ayah tunggu di depan rumah, cepat
sedikit nak.” Kata Ayah dengan nada lemah lembut
Tanpa menunggu waktu lama, aku dengan Ayah
pergi bersama ke masjid untuk solat subuh berjamaah.
Sementara itu di rumah, Ibu sedang
menyiapkan menu sarapan pagi untukku dan Ayah. “Sepertinya menu hari ini nasi
goreng lagi.” Gumam Ibu sambil melihat
nasi yang masih tersisa banyak di keranjang nasi.
Keheningan subuh dan sejuknya udara
pagi ini membuat rasa semangatku membara. Aku tidak sabar menyambut hari ini,
pergi ke sekolah, belajar, dan bertemu dengan teman-teman. Setelah selesai salat,
aku sengaja tidak langsung masuk kamar, aku bergegas ke dapur ingin tahu menu
sarapanku pagi ini.
Aku melihat ibu sedang mencari sesuatu
untuk masak pagi ini.
“Sedang mencari apa, Bu?” Tanyaku pada Ibu
“Bawang merah, Mas. Ibu boleh minta
tolong Mas Fathan bantu ibu membuat nasi goreng?” Ucap ibu sambil tersenyum.
“Lagi-lagi nasi goreng. Tidak ada menu
lain, Bu?” Tanyaku setengah mengeluh.
“Besok kita coba menu lain ya, nasi
goreng seafood, bagaimana?”
Sama saja, gumamku dalam hati.
Apapun masakan ibu, meski aku bosan, aku tetap menikmatinya.
Aku pun membantu menyiapkan bahan-bahan
nasi goreng: tiga siung bawang merah, dua siung bawang putih, seperempat sendok
teh penyedap rasa, dua telur, lima buah bakso, tiga sosis, kecap, minyak, dan
tentu saja nasi. Selain bahan, aku juga menyiapkan peralatan untuk memasak.
“Bu, wajan dan sutelnya di mana ya?”
tanyaku sembari mencari-cari.
“Di rak atas wajannya, kalau sutel kan ini… di tangan Ibu.” jawab Ibu sambil
terkekeh. Menunjukkan sutel ditangan kanan, karna kebetulan Ibu sedang bantu
menyiapkan peralatan. Aku dan Ibu tertawa kecil, gurauan pagi yang tak pernah
absen, selalu saja ada candaan antara aku dan Ibu.
“Aku juga ingin belajar memasak nasi
goreng ala ibu negaraku dong bu, spill resepnya, Bu.” Candaku.
“Bisa saja kamu ini. Boleh, Ibu
ajarkan.” Jawab ibu dengan senyuman, “Pertama-tama, setelah menyiapkan bahan
dan peralatannya Mas Fathan masukan 3 siung bawang merah 2 siung bawang putih,
beri sejumput garam ke dalam ulekkan, lalu haluskan dengan lembut.”
Aku pun mengikuti perintah ibu,
mengikuti langkah demi langkah yang ibu beritahu.
“Kemudian, potong kecil-kecil bahan
tambahan tadi Mas, 5 buah bakso dan 3 sosis.”
“Jika sudah, siapkan wajan isi sedikit
dengan minyak. Lalu, masukan bahan-bahan yang sudah dihaluskan ke dalam wajan,
aduk sampai terasa harumnya.”
“Setelah itu, masukkan telur, potongan
bakso dan, sosis yang sudah disiapkan ke dalam wajan, aduk rata bersama dengan
bahan yang sudah dihaluskan tadi.”
Aku pun mengikuti perintah Ibu langkah
demi langkah. Mengulek bumbu, memotong bakso dan sosis kecil-kecil, hingga
menumis bumbu sampai harum memenuhi dapur. Bau wangi bawang yang ditumis
bercampur telur dadar membuat perutku semakin keroncongan.
“Kemudian, masukkan nasi, berikan ¼
sendok kecap manis, dan penyedap rasa.”
“Aduk hingga kecapnya rata, tunggu
sekitar 2 menit. Lalu matikan kompor.”
“Jika sudah dimatikan, nasi gorengnya
ditaruh dipiring.”
“Sudah, Bu.” Seruku ceria dengan penuh
kebanggaan karna sudah memasak menu nasi goreng pagi ini.
Ayah yang baru saja kembali dari kamar
langsung menghampiri dapur.
“Wah, harum sekali. Siapa yang masak ini?” tanyanya sambil tersenyum.
“Mas Fathan, Yah. Tadi Ibu cuma bantu sedikit,” jawab Ibu.
Aku menunduk malu tapi senyumku tak
bisa disembunyikan.
Kami bertiga pun duduk bersama di meja
makan, menikmati nasi goreng buatan tanganku pagi itu. Meski sederhana, tapi
rasanya begitu istimewa. Bukan hanya karena bumbu dan kecapnya, tapi karena ada
canda, kerja sama, dan kasih sayang yang membuatnya terasa lebih lezat.
Sejak hari itu, aku tidak lagi mengeluh
jika Ibu memasak nasi goreng. Karena aku tahu, di balik “lagi-lagi nasi
goreng”, ada cerita kecil yang selalu hangat untuk dikenang.

.png)
Komentar
Posting Komentar