Hipokrisi

Udara pagi masih lembut menempel di kulitku. Bau tanah basah bercampur wangi batang wortel yang baru dicabut memenuhi hidungku. Cahaya matahari menimpa daun-daun muda hingga terlihat seperti berkilau keemasan. Di tengah pemandangan itu, seekor kelinci tampak tenang memakan wortel seolah ladang ini miliknya sendiri. Setiap pulang, hewan itu selalu membawa satu wortel di mulutnya. Selang beberapa menit kemudian, ia kembali lagi seolah ladang ini adalah pintu besar menuju dapurnya. Hanya tersisa dua wortel yang belum ia sentuh.

Pada urutan terakhir, aku sengaja mengintai kelinci itu. Dari balik batang jagung, aku melihatnya berhenti di sebuah kandang kecil di pinggir ladang. Terlihat beberapa kelinci lain menyambutnya, memakan wortel yang ia bawa pulang. 

"Ini ayahnya?" gumamku sembari mengintip. Dalam hatiku, aku mulai yakin bahwa kelinci itu bukan mencuri untuk dirinya sendiri, melainkan membawa makanan bagi keluarganya.

Ladang itu punya kakekku. Mata pencaharian dan sumber pangan keluargaku satu-satunya. Jika tanaman ini habis dimakan hewan peliharaan orang lain, bagaimana dengan hidupku, hidup kakek?

Tanpa berfikir panjang, aku dengan jurus seribu bayangku mengambil salah satu kelinci yang tadi mengambil wortel di ladang.

"Warnanya bagus, lucu lagi." Kataku sambil mengelus bulu kelinci. "Akan kuapakan ya, kelinci ini?" lanjutku, membiarkan imajinasi kecilku melayang-layang.

Aku membawa kelinci itu ke rumah pohon, letaknya tidak jauh dari ladang. Tempat yang paling tinggi, lebih tinggi dari rumahku. Kelinci ini tidak akan bisa mencuri sayuranku lagi. Aku membuatkan wadah tempat makan, minum, dan kandang yang nyaman untuk hewan gemas ini. Ia kupandangi lama bulunya yang halus, mata yang bulat, bibir mungil, gigi mungil, mungil-mungil semuanya, gemas.

Saat keluar dari ladang, ku lihat sekeliling. Sepi. Aku hanya sendiri di sini. Tetanggaku semuanya sudah dewasa, setiap harinya selalu bekerja dan bekerja, tak ada lagi. Aku melihat ke belakang, "Hanya seekor kelinci." Pikiran itu menempel begitu dalam, membuatku yakin untuk tidak mengembalikannya.

Aku kembali ke dalam rumah pohon, melihat kelinci dengan tatapan dalam.

Seorang anak laki-laki menepuk pundakku. Sentuhannya dingin, seperti angin yang menembus kulit. Aku melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, matanya memantulkan cahaya aneh seperti sinar lembut yang datang dari dalam dirinya.

"Siapa kamu?" Kataku sambil terheran-heran, tidak ada orang lain yang tahu rumah pohon ini kecuali kakekku.

"Kamu akan tahu aku siapa... nanti." Balasnya singkat.

Langit mendadak gelap. Suara gemuruh seperti tambur raksasa menggulung udara. Suasana berubah menyeramkan aku tidak pernah merasakan ketakutan setebal ini. Dadaku berdebar-debar, suaraku tersangkut di tenggorokan. Tidak bisa, aku tidak bisa berteriak, sesak. 

Anak lelaki itu mempunyai postur tubuh yang sama sepertiku, berambut pirang dan memakai baju yang sama. Duduk disampingku sembari melihat kelinci. 

"Kamu siapa?" lagi-lagi aku bertanya, ia tidak menjawab.

"Kamu sedang apa di sini?" tanyaku, nada bicaraku bergetar, takut. Pikirku dia hantu. Tapi aku ingat kata kakek bahwa hantu itu tidak ada. Tapi, kali ini aku sepertinya percaya ada hantu.

"Kamu tidak lihat, aku sedang apa?" jawabnya, suaranya datar membalikkan pertanyaanku. 

Mendengar jawabannya, aku semakin takut dan kaku. Aku terdiam, menundukkan kepala, mencuri-curi pandang, melihat tingkahnya yang hampir sama denganku. 

"Ikut aku!" Ajaknya tiba-tiba.

"Tunggu, bahkan kita belum berkenalan."

"Tidak perlu!" 

Mengikuti langkahnya, ketika berada di bawah pohon. Aku tidak mengenal dunia ini. seperti bukan dunia yang pernah aku lihat. Berdiri kaku, memandang segala keanehan yang ada disekitarku. Aku bahkan sempat berfikir, apakah aku sudah mati? sehingga bisa melihat hantu dan dunia lain. Kakek maafkan aku, aku bahkan sudah mencuri kelinci..

Anak laki-laki itu berhenti, melihat ke belakang dan terus mengajakku untuk cepat berlari mengikuti langkahnya.

"Cepat!" serunya dengan nada tinggi yang terdengar sangat jauh. 

Aku berlari secepat yang ia pinta. Tiba dilokasi tujuan, aku melihat kuil besar yang dikelilingi penggunungan hijau. Aku betul-betul tidak bisa menduga-duga aku sedang ada di mana, sungai dan bunga-bunga ini nampaknya seperti foto yang kupajang di kamarku. 

"Aku seperti pernah melihat pemandangan ini." kataku, melihat sekeliling dengan memutarkan badan.

"Memang." balas anak lelaki itu.

"Ini di mana?"

"Seperti yang kamu lihat." katanya, aku bingung sedari tadi anak ini selalu membalas ucapanku dengan singkat. 

Ia menunjuk ke salah satu rumah tua yang ada di dekat kuil. Menarik dan membawaku dengan kencang, tak sempat untuk bertanya. Aneh, aku bahkan merasa kecepatan lariku tidak seperti biasanya.

Setibanya di rumah tua, ada seorang ibu yang sedang memasak. Harumnya menyentil lambung mungilku. Wanginya seperti masakan ibu. Aku rindu ibu, rasanya ingin pulang.

"Makanlah, Nak." Ucap Ibu itu. Aku tidak melihat wajahnya, aku terfokus pada makanan yang disajikan. Ini makanan kesukaaanku. Tanpa ragu, aku melahap semuanya.

"Kamu tau makanan kesukaanku?"

"Tahu." Lagi-lagi singkat. Aku tak peduli jawaban singkat dan muka datarnya. Aku hanya peduli perutku. Makanan adalah prioritas utamaku. 

"Jika sudah, ikut aku." katanya, meninggalkan meja makan dengan cepat.

"Hei, kamu tidak lihat. Aku sedang makan ini, lagi pula kamu kenapa tidak ikut makan sekalian." Tidak mendengarkan langkahnya malah kian jauh.

"Ah, makhluk macam apa kamu ini, diberi makan tidak makan, diberi pertanyaan tidak dijawab, jalanmu cepat sekali." ketusku. Aku buru-buru menghabiskan satu suapan lagi.

Aku berlari kecil keluar dari rumah tua itu sambil mengelap mulutku dengan tangan. Anak lelaki itu sudah berdiri di depan pintu, menungguku tanpa ekspresi. Angin dingin menerpa wajahku, membawa aroma hutan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Aku sudah selesai!" teriakku. Ia hanya mengangguk, lalu berjalan lagi tanpa menoleh.

Aku mengejarnya. Setiap langkahku terasa aneh seperti ringan, seperti aku tidak benar-benar menyentuh tanah. Aku menatap kakiku beberapa kali, memastikan aku tidak melayang.

"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanyaku.

Ia berhenti. Untuk pertama kalinya, ia menatapku lama. Matanya… matanya sangat mirip denganku.

"Ada sesuatu yang harus kamu lihat," jawabnya pelan.

Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah langit. Awan hitam menggulung, berputar-putar seperti pintu pusaran. Dari jarak jauh, terdengar suara hewan. Banyak. Suaranya campur aduk, seperti kelinci, rusa, bahkan suara hewan yang tidak pernah kudengar sebelumnya.

"Ini… apa?" gumamku.

"Tempat ini," katanya sambil menghela napas, "adalah tempat semua hewan datang ketika mereka kehilangan rumah."

Aku menatapnya bingung. "Maksudmu? Kehilangan rumah bagaimana?"

Ia mendekat, menaruh telapak tangannya di pundakku tepat di tempat ia menepukku pertama kali.

"Mereka kehilangan rumah karena manusia mengambil semuanya."

Aku tercekat. "Aku tidak mengambil apa-apa."

"Apa kamu yakin?" Ia menatapku sangat serius. "Kelinci yang kamu bawa itu… dia kehilangan rumahnya. Dan keluarganya sedang mencarinya."

Darahku seakan berhenti mengalir. "K-kamu dari tadi mengikuti aku di ladang?"

"Aku bukan hanya melihat," katanya, "aku merasakan apa yang dia rasakan."

Aku mundur selangkah. "Siapa kamu sebenarnya?"

Ia tertawa kecil. “Bukankah aku sudah bilang? Kamu akan tahu sendiri nanti.”

Tiba-tiba, angin besar menerjang. Daun-daun berputar mengitari kami seperti pusaran hijau. Anak lelaki itu mengangkat tangan kirinya, dan pusaran itu berubah menjadi tampilan seperti layar besar aku melihat rumah pohonku, ladang wortel kakekku, dan kandang kecil yang kubuat.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya aku ada di dunia mana, ketika aku masuk ke rumah tua aku merasa sedang di rumah kakek, tapi ketika aku di luar rumah tua, aku merasakan dunia ini bukan dunia ku. Layar besar itu memancarkan cahaya yang begitu silau.

Begitu aku melangkah masuk, cahaya keemasan itu menyelimuti tubuhku seperti selimut hangat. Namun, ketika cahaya itu meredup, aku menemukan diriku berada di sebuah ruangan yang sangat luas dindingnya seperti kaca besar yang memantulkan bayangan-bayangan aneh.

Tapi bukan bayangan biasa.

Itu bayanganku sendiri. Banyak sekali. Semuanya menatap ke arahku dari berbagai sisi.

“Apa ini…?” bisikku.

Anak laki-laki itu berdiri di tengah ruangan, menghadap satu dinding kaca yang paling besar. “Ini tempat di mana kamu bisa melihat dirimu yang sebenarnya.”

Aku mendekat. Di dinding itu, aku melihat diriku sedang berbicara dengan kakek.

Dalam bayangan itu, aku berkata, “Kita harus jujur. Kakek selalu bilang, jangan mencuri dan jangan merugikan orang lain dan jangan serakah. Aku akan selalu jujur, Kek.”

Aku tersenyum melihat diriku begitu yakin dan baik.

Tapi tiba-tiba bayangan berubah menjadi adegan aku menangkap kelinci tadi. Wajahku terlihat marah, terburu-buru, dan tidak peduli.

“Aku… aku…” Suaraku tercekat. 

Anak lelaki itu mendekat. “Inilah hipokrisi.”

Aku memandangnya bingung.

“Kamu bilang pada orang lain untuk jujur. Untuk tidak mengambil milik siapa pun. Untuk tidak menyakiti. Tapi kamu sendiri mengambil makhluk kecil itu dari keluarganya, hanya karena kamu merasa benar.”

Aku menunduk. Kata-katanya seperti menampar perasaanku.
Bayangan lain muncul. Aku memarahi tetangga karena ayamnya masuk ke ladang kakek. Tapi kemudian muncul aku sendiri mengambil wortel yang masih kecil sebelum benar-benar bisa dipanen, lalu menyembunyikannya untuk camilan.

“Aku… munafik…?”

“Setiap manusia bisa menjadi munafik tanpa sadar,” katanya. “Termasuk kamu.”

Dadaku terasa panas. Bukan marah, tapi malu.

“Aku tidak bermaksud… aku tidak tahu…”

“Aku tahu,” potongnya. “Karena itu kamu dibawa ke sini. Bukan untuk dihukum. Tapi untuk melihat dirimu.”

Aku menarik napas panjang. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

Anak lelaki itu menunjuk ke pintu kecil di ujung ruangan. “Kembalikan kelinci itu. Bukan karena kamu takut salah. Tapi karena kamu ingin berhenti menjadi seseorang yang berkata ‘jujur itu penting’… sementara perbuatanmu sendiri tidak jujur.”

Aku terdiam lama.

Lalu sebuah bayangan baru muncul. Bayangan kelinci itu, duduk sendiri di kandang rumah pohon, menatap malam, menunggu.

“Baik,” kataku pelan. “Aku akan mengembalikannya. Aku… tidak mau jadi orang yang hanya pandai bicara, tapi tidak menjalankan apa yang kukatakan.”

Anak laki-laki itu tersenyum kecil, senyum pertamanya sejak aku bertemu dia.

“Itu jawabannya.”

Cahaya dari pintu kecil itu menyala terang. Aku melangkah ke sana dengan perasaan campur aduk, malu, takut, tapi juga berani. Karena mungkin, untuk pertama kalinya…

Aku benar-benar jujur pada diriku sendiri. 

Ketika membuka mata, aku sudah berada di rumah pohon bersama kelinci itu. Nafasku berat. Dadaku sesak.

Itu adalah mimpi… mimpi yang terasa terlalu nyata. Mimpi yang mengajarkanku bahwa hipokrisi tidak seharusnya bersarang dalam diriku.

“Akan kukembalikan,” bisikku akhirnya.

Aku mengambil kelinci itu dengan hati-hati dan mengembalikannya ke kandangnya.



Komentar

Postingan Populer