Berlayar Tanpa Peta 2
Perasaan tidak bisa ditebak dan tidak bisa disiapkan. Semua terjadi sesuai izin semesta. Hari ini cuaca sangat tidak mendukung, kulihat awan hitam mulai mengelilingi langit disambut dengan suara guntur yang membuatku bergidik ketakutan. Langkah kaki kian cepat, menenteng tumpukan kertas laporan yang perlu direvisi.
Lagi-lagi, motor yang sama datang tepat disampingku. "Ayo mau bareng tidak?" Tanya Hadi.
"Hadeh, jantan ini lagi." Gumamku, melirik dengan rasa yang sama. Gugup. Tanpa berpikir panjang, daripada kehujanan. Aku bergegas naik ke atas motornya tanpa menjawab pertanyaan Hadi.
"Tadi katanya dijemput Anita." Ledek Hadi, melirik ke samping memastikan ledekannya dapat membuatku tersipu malu. Diam. Lebih baik aku diam seperti patung daripada menambah rasa malu.
"Nih, pakai. Supaya tidak masuk angin." Hadi memberikan jaket hitam dan helm.
Di sepanjang jalan aku hanya bisa diam, mematung di jok belakang sambil memeluk erat map laporan di depan dadaku. Angin sesekali menelusup di sela-sela jaket, tapi aku tidak peduli. Mataku cuma tertuju ke arah jalanan yang bergerak cepat di samping atau sesekali ke aspal yang lewat di bawah kaki.
Hadi di depan juga sama sekali tidak bersuara. Dia fokus menyetir, pandangannya lurus ke depan menembus jalanan. Kulihat orang lain kalau di motor begini, ada saja yang dibahas entah soal macet, lampu merah yang lama, atau sekadar tanya kedinginan atau tidak, makan atau hal random lainnya. Tapi kali ini, satu kata pun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Deru mesin motor dan suara kendaraan lain di sekitar seolah jadi satu-satunya musik yang mengisi jarak di antara kami.
Begitu motor berhenti tepat di depan gerbang kost-ku, dia tidak langsung mematikan mesin. Aku turun pelan-pelan, membetulkan letak map laporan yang mulai lecek karena kupeluk terlalu kencang. Aku berdiri di samping motornya, tapi lidahku tetap terasa kaku buat sekadar bilang "makasih". Akhirnya, aku cuma bisa menundukkan kepala sedikit ke arahnya sebagai tanda terima kasih, tanpa berani menatap matanya di balik kaca helm.
Hadi tidak langsung memutar gas untuk pergi. Dia tetap diam di atas motornya, tapi kali ini kepalanya menoleh, menatapku lama sekali dari balik kaca helmnya yang terbuka sedikit. Aku yang masih berdiri mematung di pinggir jalan jadi serba salah. Tatapannya itu... entah kenapa terasa intens, seolah ada sesuatu yang mau dia omongin tapi tertahan.
Jantungku mulai tidak karuan. Pikiran konyol mulai menguasai otak mungilku.
"Kenapa sih liatinnya gitu?" tanyaku ketus, padahal sebenarnya suaraku agak bergetar. Aku bisa merasakan pipiku mulai panas dan memerah. Aku betul-betul malu, merasa tertangkap basah karena diam-diam juga memperhatikan dia tadi.
Hadi menghela napas panjang, suaranya terdengar berat dari balik helm.
"Lah," sahutnya datar, "Aku nunggu jaket sama helm yang dipake dah. Masa mau dibawa masuk ke kost?"
Seketika, rasanya aku mau menghilang saja dari muka bumi. Oh Tuhan.. malu sekali, malu. Aku membuka helm dan jaketnya, kemudian memberikan semuanya dengan wajah tetap ketus. Sengaja, agar rasa malu ku tidak terekspos.
"Terima kasih, Hadi. Oh iya, aku mau klarifikasi.. Anita tadi ada urusan. Jadi, aku duluan ke kost." Jelasku tanpa ia pinta. Hadi terkekeh mendengar penjelasanku.
"Santai Bel, becanda kok tadi. Btw, udah gelap aku pamit ya." Jawabnya dengan senyuman manis yang meluluhkan kaum baper sepertiku. Aku hanya bisa mengangguk sebagai balasan.
Begitu pintu kamar kost tertutup rapat, aku langsung menyandarkan punggung di baliknya. Napasku masih agak memburu. Rasanya ingin sekali aku memukul kepalaku sendiri dengan map laporan yang kupegang.
"Duh, kenapa ya aku kayak perempuan rendahan banget? Disenyumin dikit baper, ditatap lama dikit langsung mikir yang enggak-enggak," gumamku pelan, sambil memijat pangkal hidung yang terasa pening. "Harusnya kalau perempuan nggak gitu nggak sih? Jual mahal dikit napah!"
Aku berjalan gontai ke arah meja belajar, melempar map itu ke atas tumpukan buku. Bayangan muka Hadi yang menatapku tadi yang ternyata cuma nunggu helm masih muter terus di otak kayak kaset rusak.
"Stop deh! Gausah dipikirin lagi! Malu-maluin banget, sumpah," aku mengomel pada diri sendiri, mencoba mengusir bayangan itu jauh-jauh. "Pusing banget mikirin gituan, mending mikir gimana caranya ini laporan kelar."
Aku menarik kursi, lalu membuka map yang isinya penuh dengan coretan tinta merah dari dosen. Revisinya nggak main-main, hampir di setiap lembar ada catatan "perbaiki" atau "ganti teori".
"Pokok besok harus beres. Titik. Biar cepet lepas dari beban ini semua," kataku dengan nada penuh tekad yang dipaksakan. Aku menghela napas panjang, menatap layar laptop yang masih gelap. "Tapi jujur, pusing banget ya ampun. Kenapa hidup isinya kalau nggak revisi ya... bapernya salah alamat?"
Setelah perdebatan batin soal Hadi dan tumpukan revisi, tiba-tiba HP-ku bergetar di atas meja. Nama "Ibu" muncul di layar. Aku berdehem sebentar, mengatur suara supaya nggak kedengaran habis frustrasi, lalu mengangkatnya.
"Halo, Bu? Iya, sehat kok di sini," jawabku berusaha ceria.
Namun, suara Ibu di seberang sana terdengar berat. Beliau minta maaf karena bulan ini uang kost dan jajan belum bisa dikirim penuh. Ada keperluan mendadak di rumah yang nggak bisa ditunda.
"Duh, Ibu jangan dipikirin. Gapapa kok, aman banget," potongku cepat sebelum Ibu makin merasa bersalah. "Uang jajan bulan kemarin masih ada sisa banyak, masih nutup banget buat bayar kost sama makan sebulan ini. Ibu tenang aja ya, fokus urusan di rumah dulu."
Begitu telepon tertutup, senyum palsuku langsung luntur. Aku melirik dompet yang isinya makin menipis dan tumpukan kertas laporan di depanku.
"Aman dari mana..." gumamku.
Kenyataannya, uangku habis ludes cuma buat urusan print laporan. Semester akhir ini benar-benar menguras kantong. Biaya cetak laporan, revisi berkali-kali, belum lagi persiapan skripsi yang kertasnya setebal kamus.
Memang ada uang beasiswa yang masuk setiap semester, tapi aku sadar nggak bisa terus-terusan bergantung pada satu sumber pemasukan itu. Kebutuhanku lagi besar-besarnya, dan aku nggak mungkin minta tambahan ke orang tua melihat kondisi mereka sekarang.
"Mau nggak mau harus cari kerja sampingan," pikirku sambil mulai membuka situs lowongan kerja di laptop. "Apa aja deh, yang penting halal dan nggak ganggu jadwal bimbingan. Minimal bisa buat beli kertas sama tinta print."
Rasanya kepalaku mau pecah. Di satu sisi harus mikir revisi yang nggak kelar-kelar, di sisi lain harus mutar otak cari uang tambahan. Semester akhir ini benar-benar ujian mental dan dompet secara bersamaan.

Komentar
Posting Komentar