Gema Ego Para Bedebah

            Perjalanan yang kukira akan lebih baik, akan lebih memanusiakan. Ternyata prediksi manusia lemah ini salah. Manusia memang jahat ya, selalu memikirkan apapun menggunakan sudut pandangnya. Dasar kepercayaan terbangun pada pertemuan pertama, kedua, dan ketiga. Kepercayaan berkomunikasi, kepercayaan dalam mengemban amanah, yang kemudian sirna bukan karena kinerja satu dan lainnya, tapi karna mulut manusia lain yang menghasut singa menerkamnya habis tak tersisa.

“Aku yang terlalu lemah atau dunia yang memang brengsek sedari dulu?”

“Kata siapa?”

“Kataku tadi, kau tuli?”

“Tidak, kau ini.” Decak kesal, Ria.

Tatapan kami lurus ke depan, kosong. Sekosong otak kami. Langkah kaki terdengar tak beraturan, gertakannya keras. Semilir angin sore yang seharusnya menyejukkan, justru terasa seperti sabetan silet di permukaan kulit—dingin dan menyakitkan.

"Mereka tidak melihat data, Ria. Mereka melihat 'siapa yang bicara'," desisku, mengepalkan tangan hingga buku-bukuku memutih. "Amanah yang kujaga berdarah-darah itu, dianggap sampah hanya karena satu bisikan ular di telinga atasan. Sebelah mata? Tidak, mereka bahkan tidak sudi melirik."

Ria menghentikan langkahnya tepat di bawah lampu jalan yang mulai berkedip redup. "Si Bedebah itu tahu cara bermain, sementara kamu hanya tahu cara bekerja. Di gedung itu, kerja keras tidak punya nilai tukar jika tidak dibumbui dengan jilatan."

Aku tertawa hambar. Tertawa pada diriku sendiri yang begitu naif mengira bahwa integritas adalah mata uang universal. Ternyata, di hadapan singa yang telinganya sudah diracuni, kejujuran hanyalah menu pembuka sebelum eksekusi.

"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?" tanyaku tanpa menoleh pada Ria. "Bukan saat mereka memaki pekerjaanku. Tapi saat mereka memandangku seolah-olah aku ini debu yang mengganggu penglihatan mereka. Aku dianggap tidak ada, bahkan sebelum aku benar-benar pergi."

"Lalu, apa rencanamu?" Ria menatapku lekat.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengeluarkan sisa-sisa sesak yang menghuni rongga dada. Jika mereka memilih untuk menutup sebelah mata, maka aku akan memastikan mereka kehilangan pandangan sepenuhnya saat aku tidak lagi berdiri di sana untuk menopang ketololan mereka.

"Jangan pernah mengharapkan rasa hormat dari orang-orang yang bahkan tidak menghargai kecerdasan mereka sendiri. Keputusan bodoh adalah warisan para bedebah, dan aku bukan bagian dari garis keturunan itu."

Aku melanjutkan langkah. Kali ini lebih mantap. Bukan untuk kembali ke gedung terkutuk itu, tapi untuk menjauh sejauh mungkin. Biarkan singa itu kenyang dengan hasutan, sampai ia sadar bahwa yang ia telan adalah racun yang akan membusukkan singgasananya sendiri.

Rasanya seperti berjalan di atas titian tali yang sangat tipis, bukan? Kamu diminta memberikan yang terbaik setiap saat, tapi ketika kamu mencurahkan segalanya, tidak ada apresiasi. Namun, begitu ada satu kerikil kecil yang membuatmu tersandung, dunia seolah runtuh dan semua kerja kerasmu sebelumnya dianggap nol besar.

Suara dentum meja itu masih terngiang, bergetar di telingaku, merambat hingga ke ulu hati. “Tidak becus!” teriaknya. Kata-kata itu meluncur seperti peluru, menembus sisa-sisa semangat yang kucoba kumpulkan setiap pagi saat memakai sepatu.

Padahal, selama berbulan-bulan, akulah yang paling awal datang dan paling akhir pulang. Aku yang memastikan detail-detail kecil tidak meleset. Tapi di mata mereka, kebaikan adalah standar mati yang tidak perlu dipuji, sedangkan kesalahan adalah dosa besar yang layak dihakimi secara terbuka.

Aku menatap tanganku yang sedikit gemetar. Pekerjaan yang dulu kucintai, kini terasa seperti penjara tanpa jeruji. Aku tidak lagi ingin menjadi yang terbaik, karena baginya, "terbaik" hanyalah bahan untuk menuntut lebih banyak lagi tanpa pernah memberi rasa hormat sebagai manusia.

"Mereka lupa bahwa manusia bekerja dengan motivasi, bukan dengan intimidasi. Meja yang kau pukul mungkin tidak akan hancur, tapi semangat manusia yang kau hantam berkali-kali pasti akan menemui titik patahnya."

Sekali lagi, aku menghela napas. Besok aku akan kembali, tapi jangan harap ada 'jiwa' di dalam pekerjaanku. Aku hanyalah raga yang bergerak, memenuhi tuntutan para bedebah yang tidak pernah tahu cara memanusiakan manusia.

“Kamu dengar suara meja itu, Ria? Bunyinya keras, tapi suara hatiku yang retak jauh lebih bising,” ujarku lirih, menatap telapak tanganku yang masih terasa dingin.

Ria hanya diam, namun matanya memerah. Ia tahu persis bagaimana rasanya dijadikan samsat amarah tanpa jeda.

“Mereka bicara seolah, aku ini benda mati yang tidak punya rumah untuk pulang,” lanjutku, suaraku mulai bergetar. “Si Bedebah itu memaki ‘tidak becus’ seolah-olah aku tidak punya orang tua yang membesarkanku dengan penuh doa. Dia lupa ya, kalau aku ini anak yang sangat disayang ayahku?”

Ria menghela napas panjang, “Orang-orang seperti mereka hanya melihat kita sebagai angka di atas kertas laporan, bukan sebagai manusia.”

“Itu dia masalahnya, Ria. Ayahku tidak pernah membentakku seperti itu. Ibuku merawatku dengan kata-kata lembut agar aku tumbuh jadi orang berguna. Tapi di sini? Dalam satu menit, dia menghancurkan harga diri yang dibangun orang tuaku selama puluhan tahun.”

Aku menoleh ke arah gedung kantor yang lampunya mulai menyala satu per satu. “Apa dia tidak punya anak? Apakah di meja makannya, dia juga memaki keluarganya dengan kata-kata kasar yang sama?”

“MUNGKIN ITU CARA DIA BERTAHAN HIDUP,” jawab Ria pahit. Penuh amarah.

Aku terdiam sejenak, membayangkan wajah ayah dan ibuku di rumah. “Kalau Ayah tahu anaknya diperlakukan begini demi mencari sesuap nasi, hatinya pasti hancur lebih dari hatiku sekarang.”

“Jangan sampai mereka mengubahmu menjadi seperti mereka,” bisik Ria pelan.

“Tidak akan,” balasku tegas meski air mata hampir jatuh. “Sakit hati ini adalah pengingat, bahwa aku masih punya nurani. Sesuatu yang sepertinya sudah lama mati di dalam kepala para bedebah itu. Mereka lupa, sekuat apapun mereka berteriak, aku tetaplah anak kesayangan yang tidak pantas dikerdilkan oleh mulut yang tidak pernah belajar cara menghargai sesama.”

Aku melangkah pergi. Biarlah mereka terjebak dalam lingkaran kebodohan itu. Karena pada akhirnya, setinggi apa pun posisi seseorang, ia akan tetap terlihat kerdil jika mulutnya lebih cepat menyalak daripada otaknya berpikir.

 

 

 

Komentar

Postingan Populer