Perjalanan Pertamaku
Langkah awal yang ku pijak mengharuskanku bertemu banyak orang. Gayaku ditiru, ucapanku didengar, dan nasihatku digunakan. Mentari menyambutku dengan penuh kehangatan diiringi musik kaleb J- Now I know yang menemani jalanku sampai pada lokasi.
"Bu, ayo baris." Ucap wanita manis berbaju coklat itu, Laila. Salah satu rekan kerjaku yang mengajar mata pelajaran IPA untuk kelas 8 dan 9.
Aku mengikuti ajakan dan langkah Laila. Kondisi lapangan mulai dipenuhi manusia-manusia lucu dengan berbagai karakteristik. Ada yang topinya miring, ada yang dasinya longgar, ada yang hijabnya terlalu kebelakang, ada pula yang rapih dan bersih, gemas sekali. Aku menatap wajah setiap anak satu persatu dibarisan paling depan.
Pemimpin upacara memasuki lapangan. Kalimat itu, aku kembali mendengarnya lagi setelah 5 tahun tidak mengikuti upacara. Pembawa acara pada hari senin mempunyai intonasi dan artikulasi yang khas dibanding pembawa acara yang lain. Coba saja didengarkan baik-baik.
Mereka berbaris dengan rapih mengikuti rangkaian acara upacara bendera. Upacara telah selesai, pemimpin upacara membubarkan barisannya. Komando terakhir dari sang pembawa acara. Aku pun beriringan meninggalkan lapangan. Mengikuti kembali langkah Laila dan Bapak Ibu guru lainnya.
"Bu Dina, hari ini jadwalnya kelas VII C ya." Ucap rekanku. Salah satu guru bahasa Inggris yang ku kenal dan digemari oleh banyak siswa.
"Iya, Ms Ita. Ms ada jadwal di kelas berapa?"
kataku, kembali bertanya sebagai langkah awal pengenalanku di lingkungan baru.
"Kelas VIII A, Bu."
"Wah pas banget ya, satu arah. Bareng ke kelasnya yuk, Bu" Ajakku pada Miss Ita.
Pagi itu, tanganku
dingin. Bukan karna AC tapi karena gugup. Hari ini adalah hari pertamaku
mengajar dan menjadi wali kelas di sebuah SMP di pinggiran perumahan. Aku
mencoba untuk tetap tenang, agar bisa berkomunikasi dengan lancar dan tidak
belibet.
Tenang, cuma ngomong di depan anak-anak, kok. Gumamku, meyakinkan diri. Siapa sangka di luar kelihatan tenang, dalam dadanya seperti main drum.
Masuk ke dalam kelas VII C, Aku mencoba tersenyum dan menatap wajah anak-anak satu persatu. Suasana kelas menjadi hening, seolah rasa penasaran mereka tertuju padaku. Deg.
"Halo semuanya, perkenalkan saya Bu Dina, guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas kalian. Ibu senang sekali bisa bertemu dengan kalian, semoga kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik, sehingga kelas ini jadi tempat ternyaman kalian untuk belajar." Jelasku. Hening. "Baik, kalau kalian sudah tahu nama Ibu, sekarang Ibu yang mau tau nama kalian satu persatu dong. Di mulai dari yang terdepan. Tapi, perkenalannya menggunakan bahasa daerah asal kalian ya." lanjutku.
Suasana yang tadinya hening, berubah menjadi efektif dan komunikatif mereka mengenalkan diri mereka sendiri menggunakan bahasa daerah asal mereka tinggal. Ditengah obrolan ringan, terdengar celetukan kecil dari pinggir kanan, "Bu, jangan galak-galak, ya."
Aku tertawa kecil, mencoba rileks dan menjawab dengan humorku, "Ngga galak, kok. Asal jangan bikin ibu berubah jadi Hulk aja." jawabku. Beberapa anak tertawa, suasana mencair, tapi dibalik itu tetap saja tanganku berkeringat dan bibirku bergetar.
Terlihat suasana semakin mencair, aku memberikan pemantik awal berkaitan dengan materi yang akan dipelajari, yaitu cerpen. Pertengahan pembelajaran, Rizki salah satu murid VII C bertanya, "Bu, kenapa kita harus belajar lagi tentang cerpen? Kan sudah dipelajari sewaktu SD."
Aku sempat terdiam, pertanyaan yang sederhana. Tapi, membuatku semakin berkeringat dan gugup. Aku mencoba untuk menjawabnya dengan nada yang cukup pelan.
"Karena setiap jenjangnya itu berbeda, dikenalkan
kembali dengan materi sebelumnya akan melatih kita untuk menjadi lebih mahir
dan paham. Dengan belajar cerpen, kita berani untuk mengungkapkan gagasan lewat
tulisan dan kita bisa lebih mudah menangkap inti dari teks cerpen itu, terutama
amanatnya. Nanti, kalian pasti akan menemukan istilah-istilah baru."
Jelasku dengan yakin, aku mencoba untuk meyakinkan, agar anak-anak tidak bosan
mempelajari pelajaran yang sama.
Kelas mendadak hening. Lalu, seorang murid perempuan di
barisan depan tersenyum dan berkata, “Aku jadi pengen cepet-cepet belajar
cerpen, Bu.” Terdengar celetukkan itu, hatiku senang dan lebih percaya
diri.
Bel pergantian mata pelajaran berbunyi, sebelum meninggalkan
kelas beberapa murid menghampiri.
"Bu, besok ngajar lagi, kan?"
"Bu, aku mau rekomendasi buku cerpen dong. Ibu punya
ngga?"
"Bu, nanti ajarin aku nulis cerpen, ya."
Aku tersenyum lebar mendengarkan perkataan-perkataan itu.
Hari yang ku takuti. Sekarang, malah membuatku semakin senang bertemu dengan
anak-anak.
Perjalanan pertamaku, sugestiku menghantui namun nyatanya
segala bentuk praduga adalah bisikkan setan yang hanya akan membuatku justru
gagal. Setidaknya aku sudah mencoba melakukan yang terbaik. Sore ini, aku
kembali ke rumah ku dan menulis buku harian. "Perjalanan pertamaku, gugup
setengah mati, tapi... aku bahagia."

Komentar
Posting Komentar