Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Hipokrisi

Udara pagi masih lembut menempel di kulitku. Bau tanah basah bercampur wangi batang wortel yang baru dicabut memenuhi hidungku. Cahaya matahari menimpa daun-daun muda hingga terlihat seperti berkilau keemasan. Di tengah pemandangan itu, seekor kelinci tampak tenang memakan wortel seolah ladang ini miliknya sendiri. Setiap pulang, hewan itu selalu membawa satu wortel di mulutnya. Selang beberapa menit kemudian, ia kembali lagi seolah ladang ini adalah pintu besar menuju dapurnya. Hanya tersisa dua wortel yang belum ia sentuh. Pada urutan terakhir, aku sengaja mengintai kelinci itu. Dari balik batang jagung, aku melihatnya berhenti di sebuah kandang kecil di pinggir ladang. Terlihat beberapa kelinci lain menyambutnya, memakan wortel yang ia bawa pulang.  "Ini ayahnya?" gumamku sembari mengintip. Dalam hatiku, aku mulai yakin bahwa kelinci itu bukan mencuri untuk dirinya sendiri, melainkan membawa makanan bagi keluarganya. Ladang itu punya kakekku. Mata pencaharian dan sumber p...

Postingan Terbaru

Perjalanan Pertamaku

Cerpen: Lagi-Lagi Nasi Goreng

Resensi dan Ulasan Novel The Alpha Girls

Resensi Buku I Jiwa-Jiwa Yang Mencipta (Rudolf Puspa, Sitras Anjilin, Ni Luh Menek)

Say goodbye Agust

Pesan 365 hari di tahun genap

Satu pesan Ayah

Sajak ke-8

Berlayar Tanpa Peta

Sajak ke-7